Di tengah memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat pada Maret 2026, nama Selat Hormuz kembali menjadi perbincangan panas. Bukan tanpa alasan, perairan sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini adalah “keran” bagi 21 persen konsumsi minyak bumi dunia.
Jika keran ini ditutup, dunia akan menghadapi kiamat logistik energi.
Secara teknis, Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Namun, jalur pelayarannya jauh lebih sempitโhanya tersedia dua jalur selebar dua mil laut untuk kapal masuk dan keluar. Data dari Administrasi Informasi Energi (EIA) menunjukkan bahwa rata-rata 20,5 juta barel minyak mentah dan produk olahan melintasi jalur ini setiap harinya.
“Hormuz adalah jalur tunggal. Jika Iran benar-benar melakukan blokade total, tidak ada jalur alternatif yang mampu menampung volume sebesar itu secara instan,” ujar Aris Nuryanto Direktur Pemaasaran.
Distributor energi domestik seperti SHA Solo memantau ketat situasi ini. Kelangkaan stok global yang dipicu oleh gangguan di Hormuz akan secara otomatis memicu “panic buying” di pasar Singapura (MOPS), yang kemudian berdampak langsung pada harga solar industri di Indonesia dalam hitungan hari. Tanpa jalur ini, kapal tanker harus memutar jauh melintasi semenanjung Arab, yang menambah waktu tempuh hingga 15 hari dan biaya asuransi yang melambung tinggi.