Bagi para manajer proyek dan direktur operasional, awal Maret 2026 menjadi periode yang menantang untuk penyusunan anggaran. Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) industri, khususnya jenis High Speed Diesel (HSD) B40, kembali menunjukkan tren meningkat seiring dengan eskalasi konflik militer di kawasan Teluk.
Data dari PT SHA Solo menunjukkan pergerakan harga yang dinamis. Pada periode 1-14 Maret 2026, harga dasar Biosolar Industri B40 ditetapkan sebesar Rp21.250 per liter untuk Wilayah 1 dan 2. Jika dibandingkan dengan periode pertengahan Januari 2026 yang masih di angka Rp20.650, terdapat kenaikan akumulatif yang cukup terasa bagi operasional alat berat dan logistik skala besar.
Mengapa fluktuasi ini terjadi begitu mendadak? Jawabannya terletak pada skema harga keekonomian. Berbeda dengan BBM subsidi yang harganya dipatok pemerintah, BBM industri mengikuti mekanisme pasar global yang sangat sensitif terhadap isu pasokan.
“Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat menembus US$82 per barel akibat kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz,” ujar Aris Nuryanto Direktur Pemasaran PT SHA SOLO.
Fluktuasi ini sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama:
- Indeks Harga Minyak Dunia: Serangan tit-for-tat di Timur Tengah memicu volatilitas harga harian yang sulit diprediksi.
- Nilai Tukar Rupiah: Tekanan pada Rupiah terhadap Dolar AS meningkatkan biaya impor komponen BBM non-subsidi.
Bagi manajemen proyek, kepastian harga menjadi barang mewah. SHA Solo mengingatkan bahwa periode harga BBM industri berlaku setiap dua minggu (tanggal 1 dan 15). Dengan kondisi geopolitik yang masih cair, pelaku usaha disarankan untuk segera mengamankan stok sebelum potensi koreksi harga berikutnya pada pertengahan Maret.