Eskalasi militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memuncak pekan ini mulai menggoyang stabilitas pasokan energi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) memicu kekhawatiran akut akan kelangkaan pasokan yang berujung pada melambungnya harga BBM industri di meja kerja para pelaku bisnis global, termasuk Indonesia.

Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi “hantu” bagi pemulihan ekonomi global tahun 2026. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas strategis Iran pada akhir Februari lalu telah dibalas dengan blokade Selat Hormuz, sebuah langkah yang disebut para ahli sebagai “bunuh diri ekonomi” namun berdaya rusak tinggi bagi rantai pasok energi dunia.
Selat Hormuz bukan sekadar perairan sempit di antara Iran dan Oman; ia adalah jalur bagi 20,5 juta barel minyak per hari. Ketika jalur ini tersumbat, efek dominonya merambat cepat hingga ke sektor manufaktur di tanah air.

Dampak ini dirasakan langsung di sektor domestik. Data dari distributor BBM industri seperti SHA Solo menunjukkan harga dasar keekonomian Biosolar Industri (B40) di Wilayah 1 (Jawa-Sumatera) sudah merangkak naik ke kisaran Rp21.250 per liter pada periode awal Maret 2026. Angka ini diprediksi akan terus terkoreksi naik pada periode berikutnya mengikuti indeks harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini tertekan di level Rp16.900 per Dolar AS.
Bagi pelaku industri, situasi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Kenaikan harga solar industri berarti pembengkakan biaya logistik dan operasional yang signifikan.
Otoritas industri diingatkan untuk memperkuat manajemen risiko energi. Di tengah ketidakpastian ini, pemahaman mendalam mengenai dinamika geopolitik menjadi krusial. Perusahaan distribusi seperti SHA Solo kini tidak hanya berperan sebagai penyokong bahan bakar, tetapi juga sebagai navigator bagi klien dalam memitigasi risiko volatilitas harga global yang kian sulit diprediksi.
Situasi di Hormuz adalah pengingat bahwa di meja kerja seorang pengusaha di Indonesia, harga solar yang mereka bayar hari ini ditentukan oleh dentuman meriam ribuan mil di Timur Tengah.











